Susu Tante di Kedai Salamina & Kongkow Bareng LRS Menjelang Full Moon Camp 2.

Ditemani Mang Iqbal seorang mahasiswa yang tercatat sebagai founder PK PMII STAI Sukabumi. Sore hari, Sabtu 31 Oktober 2020 dengan motor maticnya saya pergi menuju kawasan wisata Salabintana di Sukabumi.

Sebelumnya pada siang hari saya bersama rekan-rekan aktivis mahasiswa/mahasiswi PMII Kota Sukabumi menggelar diskusi ringan membedah esai karya H. Mahbub Djunaidi berjudul MUSYAWARAH yang pernah diterbitkan oleh Koran Kompas pada 11 September 1988.

Paragraf pertama di artikel musyawarah, Si Pendekar Pena mengawali tulisannya dengan sangat sederhana tapi dengan muatan keilmuan yang tinggi ; DEMOKRASI liberal itu demokrasi juga, bukan kejahatan. Ia mengambil keputusan atas hasil suara yang lenih banyak. Jika 100 orang angkat suara dan 51 orang setuju, berarti itu yang menang. Yang 49 suara harus tunduk kepada yang 51. Karena demokrasi liberal itu berpegang pada prinsip “separuh lebih satu”, maka diktator semacam Hitler dengan main pokrol-pokrolan berkata, ” Kalau soalnya yang menentukan cuma satu suara, kenapa yang satu itu bukan aku saja?” Maka ia pun memusnahkan suara yang ada dan cuma suaranya sendiri yang berlaku.

Paragraf pertama ini saya bacakan didepan aktivis PMII yang kebanyakan di era reformasi hingga di era milenial seperti sekarang sudah jarang yang membaca pemikiran pemikiran dari Mahbub Djunaidi yang notabene tercatat sebagai aktor intelektual dibalik berdirinya organisasi bernama PMII.

Setelah membahas paragraf pertama kemudian saya lanjutkan dengan membacakan dua kalimat di paragraf kedua. ” Demokrasi Pancasila tidak suka kepada hitung-hitungan suara. Demokrasi itu tidak kenal voting.” Lalu buku saya tutup dan membahas lebih serius agar para mahasiswa lebih mengerti dan paham apa arti demokrasi pancasila.

Disksusi ringan membedah pemikiran Mahbub Djunaidi selama 2 jam memang terasa kurang, tapi minimal pertemuan ini cukup untuk mereka para mahasiswa/i bagaimana kedepannya menjaga dan merawat organisasi bernama PMII yang dibentuk sejak 1960.

Hujan deras yang mengguyur kawasan Salabintana memaksa saya dan Iqbal berhenti di warung kosong untuk berteduh sebentar. Hujan mulai reda. Iqbal membelokan motornya ke arah kanan. Setelah motor diparkir saya diajak masuk kedalam rumah dan dikenalkan dengan seorang perempuan yang usianya sebaya dengan saya. Alhamdullillah ternyata perempuan ini adalah Ibu kandungnya Iqbal. Sementara ayahnya Iqbal masih di Workshopnya yang memproduksi kerajinan dari dari bahan Logam, Kuningan dan Tembaga. Ibunya Iqbal juga membuka usaha kerajinan tangan untuk Wedding/resespsi pernikahan. Selama saya kenal dengan aktivis mahasiswa di berbagai kota, rerata saya juga kenal dengan orang tuanya.

Tepat pukul lima sore, saya dan Iqbal ngegas lagi dan tiba di KEDAI SALAMINA tepat pas Adzan Magrib. Dua buah Gazebo lengkap dengan charger area jadi tempat pilihan saya buat rehat, naro tas dan ngecas Samrtphone yang baternya mulai lowbat. Saya disambut oleh sang Nyonya sekaligus Owner Kedai Salamina, Yanti Widayanti, beliau adalah Istri dari Kang Jendy The Country Man, musisi Country yang juga offroader dari komunitas Land Rover Sukabumi.

” Sambil nunggu Kang Jendy sekarang Acuy dan Iqbal minum kopi apa ?” Teh Yanti lansgsung nawarin kopi kepada saya dan Iqbal. Satu kalimat pembuka yang cukup mengesankan dari Teh Yanti yang juga ikut “riweuh” ketika jadi bagian dari panitya acara Full Moon Camp di gelar LRS pada akhir Februari 2019 di Situ Gunung Sukabumi. ” Entar aja teh, agak maleman bareng Kang Jendy ngopinya.” jawab saya singkat. Teh Yanti setuju lalu beliu ngobrolin serunya jadi panitiya Full Moon Camp yang terbilang sukses di gelar sekaligus perayaan dirgahayu nya LRS yang pertama.

Tak berselang lama, suara deru kendaraan dengan penggerak 4×4 yang di produksi dan menjadi kebanggan negara Inggris bermerk Land Rover Series III miliknya Kang Jendy masuk pelataran parkir Kedai Salamina. ” Cuuuy…..” Suara serak yang cukup nyaring dari Kang Jendy setelah nutup pintu kanan mobilnya terdengar sampai ke Gazebo dimana saya dan Iqbal duduk santai. Setelah salaman lalu saya ngenalin aktivis mahasiswa PMII, Iqbal.

” Hayu Cuy, ngobrolna di didieu” ajak Kang Jendy berjalan menuju ruang utama kedai yang dibuat minimalis. Saat saya masuk ruang utama Kedai Salamina, tiga topi laken ala Cowboy yang dipajang didinding sudah cukup bagi kita untuk tahu musik apa yang paling di senangi oleh Kang Jendy yang memang sangat piawai membawakan lagu-lagu jenis Country saat menghibur pengunjung yang datang ke kedai ini. Pelataran parkir yang luas cukup untuk menampung bus dan mobil serta banyak motor dikedai ini. Jadi untuk komunitas apapun, saya pikir tempat ini cocok untuk menggelar acara dengan sajian musik yang sangat berkelas. Musik Country !!

Kumandang adzan Isya sudah mulai terdengar. Dimushola yang berada disamping kedai, Kang Jendy didaulat menjadi Imam shalat. Tepat pukul delapan satu kendaraan bermerk Pajero masuk area parkir. Tamu yang dateng bareng koleganya pas malam minggu ini adalah seorang pengusaha yang sengaja dateng hanya sekedar untuk makan malam dengan Mie Tektek dan Kopi ala Kedai Salamina!!

Obrolan pun mengalir secara alami. Saya baru menyadari ternyata konsep minimalis ala Kedai Salamina menurut saya memang lebih menitik beratkan pada keakraban antar pengunjungnya diiringi sajian musik country dari ownernya sendiri, Kang Jendy The Country Man.!!

Dengan suasana udara yang dingin di kawasan Salabintana Sukabumi, Kedai Salamina menyajikan kuliner unggulan seperti Ayam Pencok, Siomay Kuah dan Mie Tektek yang setelah saya rasain, memang bumbunya lain daripada yang lain. Teh Yanti yang jadi juru masak di kedai ini meramu bumbun untuk menu unggulan di kedai ini dengan sangat pas sesuai kondisi alam yang segar dan dingin. Kedai Salamina terdiri dari 2 lantai. Pengunjung bisa memilih dimana tempat yang paling cocok. Kedai ini sangat aman bagi pengunjung membawa kendaraan.

Menjelang pukul sembilan malam Kang Jendy menenteng gitar akustiknya. Salah satu topi / laken Cowboy yang ada didinding di ambil lalu dipakainya. Akhir pekan bulan Oktober pas malam minggu Kang Jendy menyambut pengunjung yang hadir mengawali masuknya bulan November dengan satu lagu pembuka berjudul “Big Fat Mama !!” nya Larry Mc Neil.

Jujur, saya puas banget bisa mendengar suara “The Country Man” sambil memetik gitar akustiknya dari jarak dekat! Inilah moment pertama saya bisa bertemu dan ngobrol langsung dengan Jendy The Country Man yang juga ownernya Kedai Salamina.

Sejarah perjalan beliau malang melintang bermain musik diceritakan ke saya malam itu. Hendri Lamiri yang terkenal sebagai player biola handal asal Pontianak di negeri ini ternyata pertama bermain band secara lengkap justru dengan Kang Jendy dkk. ” Dia memang jenius” tutur Kang Jendy mengakui kehebatan Hendri Lamiri bermain biola / bermain musik. Cerita Kang Jendy berkelana saat bermain musik country dibebeberapa tempat diceritakan kepada saya.

Bermain musik country dari satu tempat ke tempat lainnya telah membentuk sosok beliau benar-benar mensyukuri hidup yang beliau jalani hingga kini bersama keluarganya. Teh Yanti, sang istri tidak pernah protes bahkan tidak pernah mengeluh sedikitpun dengan segala aktivitas sauminya. Begitupun dengan kedua anaknya, Firhan Fafillah dan Kharis Warnerind. Kang Jendy dan Teh Yanti sekarang malah jadi “dosen pembimbing” untuk putranya yang sedang membuat skripsi. Mantaaap….!!

Klub-klub malam di kawasan Orchid Singapore, di Pulau Batam, Hotel terkenal di Jakarta, di Kalimantan dan tempat lainnya pernah menampilkan Kang Jendy bareng bandnya untuk perform. Dari kegiatan bermusik inilah Kang Jendy berani mengambil keputusan untuk mempersunting Teh Yanti dan hidup rukun hingga kini dikaruniai dua orang anaknya.

Selain bermain musik khususnya Country, Kang Jendy juga dikenal sebagai pegiat otomotif dan terjun didunia wisata / fun offroad dengan mobil Land Rover nya bareng rekan-rekannya di Land Rover Sukabumi (LRS). Konsep sajian musik country di Kedai Salamina bertema SUSU TANTE (Sumbangan Sukarela Tanpa Tekanan). Keren kan ?

Sukabumi yang terkenal dengan banyak kawasan wisatanya baik gunung, kebun teh dan pantai menjadi tempat yang asyik untuk dikunjungi bagi wisatawan domestik maupun asing dengan menggunakan kendaraan Land Rover. Land Rover Sukabumi sudah sangat siap jika para pengunjung ingin berwisata kemanapun tempatnya di kawasan Sukabumi berapapun kebutuhan jumlah kendaraannya dengan mobil bermerk Land Rover. Malam semakin larut dengan cuaca yang dingin dikawasan Salabintana membuat kopi digelas saya cepet habis. Ha ha ha …..

Menurut saya, sangat beruntung sekali bagi semua komunitas penggemar mobil Land Rover di seluruh Indonesia, ada sosok Kang Jendy dari LRS dengan kemampuannya bermain musik Country. Gak akan rugi bahkan gak akan mengecewakan jika Kang Jendy perform di acara-acara penting yang digelar berbagai club komunitas Land Rover.

Tepat pukul sepuluh malam saya harus pamitan meninggalkan Kedai Salamina walapun Kang Jendy memaksa saya untuk nginep semalam di kediamannya beliau. Kongkow santai di Kedai Salamina Salabintana Sukabumi dengan salah satu musisi country terbaik Indonesia ini telah memberi arti yang begitu penting untuk saya khususnya. Butuh waktu sepuluh bulan saya baru bisa menemui beliau. Bukan hanya gegara pandemi yang jadi penghalang, tapi begitu segannya saya jika meminta nomer kontak telepon seseorang kepada orang lain di komunitas otomotif.

Kang Jendy dan Teh Yanti masih tetap berdiri didepan Kedainya sampai saya pulang di kegelaapan malam yang dingin di Kawasan Salabintana.

Dijalan Smartphone saya berdering. Pas saya lihat ternyata Kang Iyus Are Humas nya LRS yang telfon.. ” Kang Acuy.. ditunggu Abah Asep.. malam ini.. omat nya..” sapanya.. ” Iya Kang.. serlok ya Kang” jawab saya singkat..

Abah Asep Ketua LRS, Kang Wommy, Mang Yudi dan Kang Iyus Are malam minggu di akhir bulan oktober 2020 ini ngajak begadang bareng. Ada apa sih ? .

👉 Simak ulasan lengkapnya ngobrol bareng Land Rover Sukabumi menjelang event akbar Full Moon Camp ke 2 yang di akan di gelar di salah satu Kawasan Wisata yang belum pernah dijamah oleh komunitas otomotif manapun di Kawasan Kab. Sukabumi Jawa Barat Indonesia.

Mang Djana

You cannot copy content of this page