Exclusive Interview..Sjarif Wiradinata: The One and Only Meneer “Edward Van Halen”

“Do What You Want To Do, and Enjoy It !!”

Gitaris Rock ini lahir di Bandung pada 3 Mei 1972 dengan nama lengkap Mochammad Sjarif Wiradinata. Saya biasa memanggil namanya, Kang Sjarif. Kesempatan yang sangat langka ini saya manfaatkan sebaik mungkin untuk bertemu dengan Kang Sjarif. Beliau adalah musisi yang sangat konsisten dengan keputusannya untuk berkiprah dan mendedikasikan hidupnya didunia musik Rock !!

Anak kecil bercelana merah dan berkemeja putih khas seragam SD itu hampir setiap hari saya lihat pulang dan pergi dari rumahnya di bilangan Situ Sari buahbatu menuju sekolahnya di SD Cijagra II di Jalan Situ Lembang Bandung. Kadang pergi sekolah dengan sepeda BMX nya.

Sjarif kecil tumbuh normal dilingkungan yang cukup aman. Saya tidak kenal dekat saat sekolah dulu. Hanya tahu Sjarif kecil bisa bermain gitar. Seperti pada umumnya anak-anak sekolah di wilayah Buahbatu, setelah lulus, pilihan pertama melanjutkan sekolahnya pasti di sekolah yang terdekat. Sjarif cukup pandai sehingga lulus dan masuk di SMP N 13. Sekolah Menengah Pertama yang banyak melahirkan artis termasuk Armand Maulana Vokalisnya GIGI. Nama Sjarif di lingkungan komplek sudah dikenal sebagai anak yang mahir memainkan gitar walaupun saat di SMP belum terlihat manggung di acara Agustusan. Kedua orang tuanya sangat perhatian terhadap perkembangan Sjarif kecil. Selesai menuntut ilmu di SMPN 13, Sjarif melanjutkan sekolah di SMA N 12 Bandung. Jarak yang gak terlalu jauh dari rumahnya membuat Sjarif tumbuh sebagai pribadi yang baik.

Talenta dan bakat bermusiknya baru di explore saat dia duduk di bangku sekolah saat aktif di grup paduan suara SMAN 12. Belajar gitar sejak kelas 5 SD pada tahun 1983 secara otodidak tidak membuat dirinya minder.

” Jujur sampai sekarang saya belum pernah belajar atau kursus di sekolah musik. makanya saya buta not balok he..he..he.” Dengan tawa yang renyah Kang Sjarif menunjukan kerendahan dirinya.

” Aslinya, saya belajar bermain gitar itu hanya melihat orang yang jago main gitar. Ya udah saya pelajari sendiri. Kalau bisa dan juga waktunya ada terus memungkinkan, saya tanya ke orangnya langsung. Pokoknya ambil sana ambil sini dan saya pelajari cara bermain gitarnya.” Kang Sjarif terus bercerita kalau darah bakat bermain gitarnya memang turunan dari Ayahnya.

Perjalanan Kang Sjarif menjadi musisi rock memang saya saksikan sendiri. Kebetulan beberapa kali saya sempat main ke rumahnya di buabbatu di jaman 90an. Kepenasaran saya sejak lama sama Rocker ini baru kesampaian di bulan kelahirannya, Mei di tahun 2020 !

” Kang, lagu apa yang pertama akang mainkan sejak pertama bisa main gitar?”

Kedua bola mata Kang Sjarif menerawang jauh. Saya di buat kaget saat Kang Syarif menyebut lagu ‘Susanna‘ karya masterpiece nya “The Art Company” adalah lagu pertama yang beliau mainkan.

“Waktu itu saya bawainnya asal mirip aja, gak detail he..he..he.” selorohnya.

Dengan permainan gitar yang gahar layaknya Eddie Van Halen saya menduga lagu pertama yang Kang Sjarif bawain adalah “Smoke On The WaterDeep Purple. Ternyata dugaan saya meleset.

Kongkow RODAmagz bareng musisi rock asal Bandung yang sudah malang melintang di berbagai panggung dan studio rekaman, tentunya menjadi sangat special ketika Kang Sjarif mengundang saya untuk interview di kediamannya yang baru di Kabupaten Bandung Barat.

” Cuy, nanti dirumah yang di Ngamprah KBB aja ya ngobrolnya” Dengan akrabnya Kang Sjarif lebih enjoy menanggil saya dengan nama Cuy bukan Mang Djana. Sosok yang humble yang tidak pernah lupa masa kecil.

Menjelang lebaran tahun 2020 ini RODAmagz ingin memberikan sesuatu yang cukup berarti bagi para pembaca setianya dengan menghadirkan wawancara exclusive. Dan hasil rapat managemen menetapkan nama Kang Sjarif Wiradinata sebagai nara sumber yang pantas di bongkar sedikit dari perjalanan sejarah hidupnya dalam bermain musik.

Cukup lama bagi saya untuk menguhubungi beliau. Kontak telepon yang masih tersimpan di handphone saya beberapa kali saya pelototin. Nomer XL dengan deretan 4 digit dibelakang yang beliau pake, bikin saya rada keder. 5150, Nomer cantik Bro !! Seluruh musisi didunia pasti hafal dengan 4 digit angka ini. He he …

Kang Sjarif cerita soal gitar listrik yang pertama kali dimilikinya. “Yamaha RGX 012, itu gitar electrik yang pertama kali yang saya beli di tahun 90 an awal. Dan gitar itu yang sering saya pake dipanggung bareng Band SMA Choiruz di tahun 1988 sampai tahun 1991. Belakangan Choiruz berubah jadi Aksara Band.

Sebagai leader di Aksara Band, Kang Sjarif tetep memberi energi yang luar biasa walaupun dalam rentang waktu itu Kang Sjarif juga bergabung dengan band lain. Perjalanan Aksara Band sejak 1992 hingga 2008 membentuk pribadinya menjadi lebih dewasa.

“Aksara Band ini sejak dibentuk emang sering gonta ganti personil. Kecuali posisi gitar yang saya pegang sampai band ini di vakumkan di tahun 2008.” Matanya berkaca-kaca saat cerita Band Aksara yang menjadi awal dirinya nyebur jadi musisi Rock.

Seinget saya, cukup bangga dong pernah satu panggung dengan bandnya Kang Sjarif saat beliau jadi gitarisnya Band Mobster di tahun 1995. Obrolan makin melebar saat dia cerita beberapa band yang pernah dia jadi personilnya di Bandung.

Tidak pernah putus asa ! Itulah yang saya tangkap dari sosok gitaris yang jago mereparasi gitar ini. Saya sering menyebutnya MSW (My Self Workshop). Kepiawaiannya bermain gitar di tunjang juga dengan pengetahuan bermusiknya yang cakap dan jago juga dalam mereparasi gitar.

Selain bermusik, Kang Sjarif punya aktivitas lain di MSW (My-Self Workshop). My-Self Workshop jadi tempat untuk bereksperimen dirnya seputar gitar elektrik plus pernak pernik segala macem hal yang ada hubungannya dengan gitar listrik.

Yang menarik My-Self Workshop terbuka untuk umum khusunya para gitaris. My-Self Workshop ini sudah berjalan sejak 1993. Banyak rekan-rekan musisi dari berbagai daerah yang dateng ke MSW. Dengan adanya My-Self Workshop jelas membuat kota Bandung semakin banyak pilihan tempat untuk di kunjugi.

Sudah banyak gitaris khususnya di Bandung yang percaya gitarnya di bawa ke Kang Sjarif untuk di-setup atau dimodifikasi sesuai selera si pemiliknya. My-Self Workshop di jalankan dengan sangat profesional. Sangat wajar kalau pada akhirnya My-Self Workshop bisa bertahan hingga kini.

Grup musik yang didirikan Kang Sjarif dari awal itu adalah Aksara Band. Wawasan bermusiknya semakin bertambah saat bergabung di Mat Bitel Plus. Dan Melalui Kang Didong Mat Bitel, Kang Sjarif diajak bermain musik di cafe untuk pertama kalinya. Kang Sjarif sebelumnya lebih banyak bermain musik di panggung terbuka atau open air.

Kang Sjarif dengan jujur mengakui bersama Mat Bitel Plus wawasan bermusiknya semakin luas dan gak hanya bermain musik rock saja. Pengalaman berharga bermain dengan Mat Bitel Plus ini menjadi cermin bagi dirinya dan tidak melupakan orang yang pernah berjasa dalam karirnya bermusik. Kang Didong salah satu personil Mat Bitel adalah sosok yang tidak pernah akan saya lupakan.

Kontribusi dalam bermain gitarnya tercatat dibanyak grup band. Pernah bergabung dengan Mobster Band sekitar tahun 1993 sampai 1995. Kemudian gabung di Mat Bitel Plus sekitar tahun 1993-1994. Setelah di Mat Bitel Plus saya gabung bareng Simple X Band tahun 1994-1995. Demonium Band di tahun 1995-1996. Kang Sjarif semakin aktif dan gak pernah berhenti bermain musik walaupun kondisi dunia musik rock sempat berada di titik terendah di Bandung.

Band Invader juga pernah memakai Kang Sjarif sebagai gitarisnya sekitar tahun 1996-1997. Kemudian gabung di Coma Band pada tahun 1997-1998. Di tahun 1998 sampai 2000 Kang Sjarif jadi lead gitar di Hippies Band.

Salah satu Band yang cukup tenar di Bandung pun pernah memakai jasa Kang Sjarif. grup ini bernama Status Band. Gabung sejak tahun 2000 hingga sekarang. Status saat ini sedang vakum.

Pernah juga bergabung di Klan Band pada tahun 2001-2002. Klan sempat membuat album rekaman tapi enggak beredar. Persoalannya sangat klasik. karena kekisruhan di manajemen saat itu.

Dan band yang mengokohkan dirinya sebagai musisi (gitaris rock handal) saat Kang Sjarif menjadi personil Anak Adam Band sejak tahun 2008 hingga saat ini.

Ternyata perjalanan dan pengalamanmya bermain musik yang sudah digelutinya tidak pernah membuat musisi ini melempem. Kang Sjarif lalu bergabung di grup barunya dengan nama Hi-Rock Band di tahun 2017 hingga 2019. Itulah kenapa saya berani bilang Kang Sjarif adalah musisi yang konsisten di dunia musik Rock.

Keterlibatannya di berbagai grup band sebagai bukti bahwa musik bisa menjadi media silaturahmi yang sangat efektif tanpa harus mengedepankan ego.

“Sekarang saya lagi fokus di band yang baru. Six Fidelities Band. Gabung diawal tahun 2020 dan sedang berjalan. Sama seperti saat saya ngeband di Mat Bitel Plus, band ini ( Six Fidelities -red) bawain banyak jenis genre musik. Dengan banyak memainkan genre musik, semakin banyak ilmu dan wawasan saya dalam pergaulan dan bermain musik juga makin bertambah.” Kang Sjarif cerita sambil jemari tangannya memainkan lagu Judgement Day nya milik Van Halen di ruang tamu di kediaman barunnya yang cukup asri di Kabupaten Bandung Barat.

Selain bermain dari panggung ke panggung, juga di berbagai cafe, Kang Sjarif sering terlibat di banyak project. Bahkan beberapa lagu yang dibawakan musisi lain, gitarnya sering Kang Sjarif yang ngisi saat rekaman di studio.

Kang Sjarif juga pernah membantu mengiringi beberapa Lady Rocker saat mangung, seperti Mel Shandy, Yossie Lucky dan beberapa penyanyi rock lain.

Walaupun belajar gitar secara otodidak, Kang Sjarif juga pernah diminta membantu ngisi track gitar di rekaman teman-teman pemusik lainnya. Hasil dari kabisanya bermain gitar beliau tabung untuk membeli perangkat musik yang dia butuhkan untuk menunjang aktivitasnya bermusik sebagai perjuangan menjalani kehidupannya bersama Istri tercintanya.

“Kang, siapa gitaris Indonesia yang paling akang idolakan?” Tiba-tiba ke kepoan saya datang saat beliau ngutak ngatik gitar Ibanez nya.

Sayatan tangannya memainkan intro lagu Maret 89 milikya God Bless. Dengan senyum khas nya Kang Sjarif menjawab dengan tegas. “Bang Eet Sjahranie sosok gitaris idola saya. Selain idola beliau itu guru secara tidak langsung saya dalam bermain gitar.” Jawaban tegas ini menjadi bukti kejujurannya dalam bermain gitar.

Tanpa saya tanya, Kang Sjarif bilang begini ; ” Kalau untuk gitaris luar negeri, The One and Only Meneer Edward Van Halen.!” Gitaris band Van Halen yang keturunan darah Sunda ini memang sangat mempengaruhi cara Kang Sjarif bermain gitar.

Saat saya tanya apa lagu favoritenya, Kang Sjarif bilang ‘A.F.U. (Naturally Wired)‘ miliknya Van Halen adalah lagu yang paling difavoritkan Rocker yang menjadi kakak kandungnya Diat gitarisnya Yovie and The Nuno. Van Halen, God Bless dan Edane adalah band rock yang menjadi favoritenya dan sangat beliau kagumi.

Kang Sjarif Wiradinata adalah musisi yang paham bagaimana saat berhadapan dengan alat musik khususnya gitar dengan segala perangkatnya. Beliau selalu rileks dan mencoba terus mempelajari ketika menemukan perangkat yang baru. Kang Sjarif tidak pernah ketinggalan informasi dan selalu terus belajar.

“Kang, jujur saya masih penasaran, apa yang paling menarik dari sosok Eddie Van Halen ?

Gitar yang lagi dipegangnya kemudian beliau simpan. Kang Sjarif menarik nafas panjang. Dengan serius dia menjawab kepenasaran saya. ” Yang paling menarik buat saya dari sosok Eddie Van Halen adalah bahwa beliau ini gitaris yang membuat revolusi permainan gitar rock di awal ’80-an. Sebelumnya di awal ’70-an permainan gitar rock juga telah direvolusi oleh Jimi Hendrix. Buat saya pribadi, sosok Eddie Van Halen ini adalah peletak dasar untuk sound dan teknik-teknik modern dalam permainan gitar rock. Untuk bisa menguasai style gitaris-gitaris rock di era ’80-an, Anda wajib mendengarkan permainan gitar meneer Eddie Van Halen dulu.!!!” Dengan santai tapi serius Kang Sjarif memberikan tips untuk para gitaris yang mau terjun ke dunia musik rock bahwa mempelajari musiknya Van Halen adalah “wajib”.

Ngobrol dengan Kang Sjarif tidak akan pernah bosan. Kita bisa dapet ilmu soal sound dan pengetahuan dibidang musik.

“Bisa kasih komentar Kang, soal musisi Indonesia khususnya Rock ?” Sebenarnya saya berat nanyain soal ini. Tapi bagi saya ini adalah kesempatan yang gak bisa saya dapet kedua kalinya karena bulan Mei adalah moment sakral bagi Kang Sjarif.

” Musisi lokal saat ini sudah sangat maju baik dalam hal teknik permainan dan piranti pendukungnya. Sekarang ini mau mempelajari hal apa saja tinggal lihat dan klik di internet. Selebihnya tinggal masalah kemauan. Punya kemauan apa enggak? Khusus untuk musisi rock dan musik rock, sekarang ini yang saya rasa iklimnya agak kurang mendukung untuk perkembangan musik rock, baik dari sisi media dan hal lainnya. Sekarang agak sulit untuk musisi rock mengekspresikan musiknya baik di on-air atau pun off-air. Musik rock saat ini rasanya kurang mendapat porsi untuk ambil bagian di khazanah musik Indonesia.” Apa yang Kang Sjarif sampaikan tentunya bukan sekedar asal cuap karena beliau memiliki banyak pengalaman plus bagaimana musik rock yang tidak asal jadi.

Sejak kecil hingga saat ini di tahun 2020 Kang Sjarif gak pernah berhenti dan selalu berkecimpung didunia musik khususnya rock. Pengalaman telah membentuk dirinya mejadi sosok yang humble, ramah dan gak pelit dalam ilmu.

Beberapa waktu yang lalu saya memang saya sempat bertemu dengan beliau di acara buka bersama bareng BGC (Bandung Guitarist Community). Sebuah komunitas yang didirikan di Bandung untuk para musisi khususnya gitaris.

Saat saya tanya Kang Sjarif apa komentarnya tentang BGC, beliau menjawab dengan polos dan sangat jujur. ” BGC sebagai sebuah komunitas rasanya sudah cukup baik dalam menghimpun gitaris-gitaris dari berbagai genre musik, khususnya di Bandung. Tapi ya itu masalah klasik yang sering muncul dari sebuah komunitas adalah kesinambungan dalam menghasilkan sebuah kegiatan. Mungkin kendala terbesarnya adalah karena kesibukan masing-masing anggota dan kurangnya dukungan dari sponsorship. Karena gak bisa dipungkiri, roda kegiatan organisasi/komunitas itu harus ada dana yang mendukungnya, mudah-mudahan ke depannya BGC bisa lebih maju lagi.” Kejujuran dan harapan besar inilah yang Kang Sjarif yakinkan bahwa BGC bakal lebih maju kedepannya. Ini seperti vitamin dengan rasa optimis bahwa BGC bisa berbuat sesuatu untuk bangsa dan negara.

Kang Sjarif adalah sosok musisi yang terbilang apik. Koleksi kaset dan Compact Disc nya masih tersimpan rapih. “Alhamdulillah, semua album kaset, CD audio yang pernah saya beli sejak pertama saya mengenal musik masih tersimpan.”

Iseng saya nanya saat waktu udah mulai sore, ” Kang, kalau akang lagi pergi terus ngelihat gitar, apa apa yang ada dipikiran Akang?
“Kalau bisa, terus memungkinkan untuk dimainkan, saya akan mainkan gitar itu. Ha ha ha” tawa beliau pecah… di ruang tamu sambil memainkan gitar terbarunya.

Ribuan kali tampil bermain musik diberbagai tempat tidak pernah membuat dirinya jenuh. Justru malah makin produktif. Dari banyak lagu yang pernah dimainkan, lagu ‘Unchained’ miliknya Van Halen adalah Intro lagu yang paling Kang Sjarif sukai.

” Saya gak bisa komentar lagi soal Van Halen karena ini band favorit saya. Malah bukan favorit lagi tapi sudah Van-natik. Kalau ngomentarin band favorite pasti semua komentarnya subyektif dan pasti bagus-bagus semuanya he..he..he.,

Yang terakhir nih Kang, Apa pesan untuk generasi muda di seluruh Indonesia?

Do what you want to do, and enjoy it.!!! Jangan terlalu memikirkan nanti harus jadi begini, nanti harus jadi begitu. Apa yang ada di depan mata, itulah yang harus dihadapi dan dikerjakan.”

Cuaca di Kabupaten Bandung Bara cukup cerah. Kang Sjarif dan keluarga lewat RODAmagz mengucapkan selamat hari raya Iedul Fitri Minal Aidin Walfaidzin Mohon Maaf Lahir & Bathin untuk semua musisi dan para pembaca dimanapun berada. Its time to Rock !!

Ngamprah Kab. Bandung Barat, Mei 2020

Mang Djana

You cannot copy content of this page