Kaderisasi Organisasi di Era Reformasi.

Sejak era reformasi, tidak ada lagi kaderisasi yang konsepnya mencetak seorang kader menjadi manusia yang unggul. Prioritas organisasi hanya satu yaitu kuantitas! Kedepannya di fungsikan untuk menjadi duta pasangan calon dalam pemilu. Dengan tampilnya para akademisi yang mendukung paslon, target utamanya adalah masyarakat tertarik untuk memilih paslon yang di dukung para aktivis. Inilah awal mula bobroknya generasi penerus bangsa.

Anggota organisasi dicetak secara instan untuk mendapatkan julukan KADER. Anak-anak muda yang masuk organisasi mahasiswa dididik oleh orang-orang sama sekali tidak paham tujuan daripada kaderisasi. Hasilnya anak-anak muda (cowok) itu sudah termakan angan-angan mengejar dunia; harta, tahta, vagina ! Begitupun mahasiswi yang menceburkan diri masuk kedalam organisasi mahasiswa, dicetak dengan tujuan yanh sama.

Satu hal sisi positifnya menjadi anggota organisasi adalah bisa saling kenal dengan banyak orang. Tapi tidak menjamin huhungan itu berkualitas. Pasca reformasi’98 tujuan berorganisasi bukan lagi kaderisasi tapi organisasi dijadikan pabrik suara. Nama organisasi dijadikan alat jual beli dengan pasangan calon yang ingin menjadi pejabat publik. Inilah yang dimaksud mengkhianati para pendiri organisasi (founder) dan merusak nilai-nilai positif yang sudah di konsep oleh aktor intelektual dibalik berdirinya organisasi. Pasca reformasi’98 kaderisasi dibeberapa organisasi hasilnya memang sangat buruk. Yaitu melahirkan politisi busuk. Ini terbukti beberapa menteri korupsi. Orde Reformasi gagal total.

Mang Djana

You cannot copy content of this page