Andre Howis BBMC, Gani Nag, Ujang Koswara & Segarnya Udara Malam Kota Bandung di Masa Pandemi.

Sosok bikers yang satu ini terkenal dengan profesinya sebagai pegiat jual beli barang antik. Ngobrolin soal barang antik dengan Kang Andre bakal lupa waktu. Saya sampai jadi pendengar yang “patuh” saat diceritain betapa susahnya dapetin barang-barang antik yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Yang unik dari Kang Andre, beliau adalah penggemar berat pakaian militer. Saat saya tanya berapa harga paling mahal sebuah pakaian militer? Beliau tidak menyebut harga yang pasti. Tapi baju militer yang masih menyisakan darah dan menempel di baju, jaket atau celana seorang tentara pada saat perang Vietnam adalah salah satu yang masuk kategori mahal. Dan anehnya ada juga orang yang mau membeli untuk dijadikan koleksi. Bincang-bincang dengan Kang Andre di tokonya di Pasar Barang Antik Cikapundung Bandung bikin saya betah.

Kang Andre yang tercatat sebagai bagian dari panitia Anniversary ke 31 BBMC yang digelar di Hotel Killa Senggigi Lombok pada September 2019, adalah sosok yang humble. Walaupun sedang nunggangin motornya dijalan, beliau selalu menoleh saat di sapa. Berhenti dipinggir jalan lalu melepas helm-nya dan menyapa balik. Setelah saling sapa lalu ngegas tipis-tipis entah kemana. Kesan someah beliau tidak pernah pudar dimanapun tempatnya.

Seperti kejadian tadi sore, Senin 1/02/2021, dari jarak sekitar 20 meter di perempatan Tamblong – Naripan saya hapal betul yang naik motor itu adalah pasti sosok pria berkacamata berambut putih salah satu keluarga besar BBMC. “Kaang Andreeee…” teriakan saya dari seberang jalan dengan jarak sekitar dua puluh meteran ditambah kondisi jalanan yang cukup bising tetap bisa didengar penyuka musik blues ini. Selanjutnya ya begitulah… ke someahan seorang bikers ini tetap terjaga dan menyapa balik dengan lambain tanganya yang khas. Setelah saling sapa, saya dan Kang Andre pisah.. ngelanjutin aktivitas masing-masing.

Hampir empat jam sejak pukul 15:30 saya di Hotel Naripan. Hotel yang sering dijadikan tempat nginepnya klub-klub sepakbola nasional ini emang adem. Sejak tahun 2020 di masa pandemi Kang Dedi ownernya Hotel Naripan justru malah membangun mini stage untuk menggelar live music yang digelar seminggu sekali dimasa pandemi. Didepan area panggung ada kolam kecil yang bikin suasana jadi segar.

Dari jarak sekitar dua meter, saya melihat seorang pria duduk kursi disamping kolam. Saya hafal betul siapa dia. Hampir 25 tahun saya tidak pernah bertemu dengan pria ini. Akhirnya saya sengaja nyapa lebih dulu dan dugaan saya tepat, dia adalah teman lama saya. Gani Nag, itulah nama beken musisi dan pencipta lagu yang saat ini lagu ciptaannya sedang melejit ke papan atas. Pertemuan dengan seorang pencipta lagu ini gak saya sia-siakan! Gani Nag memang lama di Jakarta terhitung sejak tahun ahir tahun 90an. Banyak hal yang diceritakan seputar aktivitasnya didunia industri musik. Asyiklah pokoknya ngobrol dengan Gani Nag pencipta lagu Dua Jurus Cinta yang dibawakan oleh penyanyi baru yang lagi beken, Restina.

Saat hujan lebat turun sore hari di kota Bandung di awal bulan februari ini, ternyata saat saya ngobrol dengan Gani Nag, di Hotel Naripan sedang berkumpul beberapa orang pelaku usaha (UMKM) Kota Bandung. Dari jarak sekitar tujuh meteran saya melihat sosok seorang tokoh publik yang concern dibidang UMKM, beliau adalah Kang Ujang Koswara. Andai saja beliau tidak sedang sibuk dengan sesama koleganya, saya akan beranikan diri untuk interview singkat barang dua menit dengan beliau seputar UMKM.

Kumandang Adzan Isya sudah mulai terdengar, hujan pun sudah mulai reda. Gerimis yang turun diarea parkir belakang Hotel Naripan sebenarnya kesempatan buat saya untuk lakukan interview Kang Ujang Koswara.. cuma saya pikir rasanya gak etis kalau intwrview gak janjian dulu. Saya dan Kang Ujang Koswara hanya saling sapa dan saling ucap salam.

Keluar dari area Hotel Naripan, jalanan begitu sangat sepi. Beberapa ruas jalan dipusat kota Bandung ditutup berkaitan dengan PSBB. Inilah saatnya saya menikmati kelezatan segarnya udara kota Bandung dimalam hari tanpa polusi udara yang keluar dari knalpot kendaraan bermotor.

Lagu Crying In The Rain nya Whitesnake yang keluar dari tenggorokannya David Coverdale yang saya dengerin pake headset bikin saya tambah enjoy menikmati ruas jalan yang paling bersejarah di Indonesia khususnya dan di benua Asia & Afrika pada umumnya. Yup jalan Asia-Afrika Bandung malam ini membawa saya menerawang jauh kebelakang.

Setelah puas menikmati segarnya udara di ruas jalan Asia-Afrika dan ditemani suara kerennya David Coverdale, saya sempatkan mampir di Penjara Banceuy sekedar membacakan Surat Al-fatihah untuk Sang Proklamator, Presiden terbaik, terkeren dan Presiden Indonesia paling disegani + di hormati seluruh negara didunia, Ir. Soekarno (alm).

Bung Karno adalah salah satu founding fathers berdirinya/terbentuknya Bangsa dan Negara Indonesia. Penjara Banceuy adalah saksi sejarah berdirinya bangsa dan negara Indonesia yang sudah dilupakan oleh banyak orang. Para aktivis mahasiswa/i terkesan sudah gak mau tahu soal sejarah. Mereka kebanyakan lebih fokus agar bagaimana caranya perut kenyang dengan cara instan menjadi penjilat para pejabat publik. Jangan baper nanti cepet stroke loh..😂

Mang Djana

You cannot copy content of this page